Quotes of August 30th

Don’t worry that children never listen to you; worry that they
are always watching you.
Robert Fulghum

Advertisements
Posted in Quotes | Leave a comment

Quotes of August 27th


The difficulty with marriage is that we fall in love with a personality, but must live with a character.
Peter De Vries


Posted in Quotes | 2 Comments

She likes me for me..

Better to be known as a sinner than a hypocrite.” – Unknown proverb
The only thing worse than a liar is a liar that’s also a hypocrite! “ – Tennessee Williams

Yup, ada orang bilang “jangan munafik”, atau “saya benci orang munafik”. Tapi pada kenyataannya banyak pula orang munafik yang justru berkata seperti itu. Sebenarnya munafik itu apa sih? Ada yang bilang di sini, kalau sok baik padahal nggak baik, sok bener  padahal nggak bener, lain di mulut lain pula di hati, kalau lihat wanita cantik pake bikini tutup mata tapi ngintip… he he.. atau di sini yang bilang munafik itu tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan atau orang yang punya standar ganda itu belum tentu munafik, tapi orang yang munafik itu selalu punya standar ganda.

Lalu contohnya gimana? Aku sendiri deh. Kadang kalau bertamu ke rumah orang (ya, iyalah, masak bertamu ke rumah sendiri??) terus ditawari makan, biasanya tanpa ba-bi-bu, langsung bilang “oh, enggak, terima kasih!” (padahal mulut udah nahan liur berliter-liter waktu lihat hidangannya.. haha!), lalu tanpa sadar sudah nyomot kerupuk atau camilannya (halah!) atau sok suci, ketika diajak rame-rame nonton video mesum menghebohkan dari artis waktu itu langsung menolak (padahal sampe rumah langsung cari-cari di youtube).

Every man alone is sincere.  At the entrance of a second person, hypocrisy begins.  We parry and fend the approach of our fellow-man by compliments, by gossip, by amusements, by affairs.  We cover up our thought from him under a hundred folds.” ~Ralph Waldo Emerson, “Friendship,” Essays, 1841

Perlu enggak sih munafik? Munafik di kantor misalnya (biar gak dipecat bos!), atau munafik di hubungan pertemanan (biar mereka gak pada ngilang). Atau perlu dilihat dari dua sudut pandang berbeda?

Ada satu kasus yang pernah saya baca, tentang seorang wanita pasangan selingkuh yang ingin lepas dari belenggu status tidak jelas. Di satu sisi, ia ingin berkeluarga sendiri dan sudah muak dengan janji-janji manis sang pria beristri, tetapi di sisi lain ia membutuhkan dukungan materi untuk membiayai keluarganya, membiayai sekolah adik-adiknya di kampung. Nah lho? Jadi benci atau malah simpati?

One should examine oneself for a very long time before thinking of condemning others.” ~Moliere

Yang pasti sih kalo munafik di rumah dengan pasangan, hwadah… Jangan sampe deh! Ups, harus merenung juga nih kayaknya. Aku sendiri masih munafik gak ya?

Posted in Sekejap Perasaan | Tagged , | Leave a comment

16 Agustus 2010

Seorang wanita mencemaskan tentang masa depannya hingga ia memperoleh seorang suami.

Seorang pria tidak pernah mencemaskan tentang masa depannya hingga ia memperoleh seorang istri.

Posted in Quotes | 2 Comments

BERSYUKURLAH PADA YANG ANDA PUNYAI

Kadang kita selalu merasa kurang bila melihat kepunyaan orang lain. Selalu ingin lebih tanpa pernah bersyukur, selalu mengeluh. Sebenarnya ketika Anda sedang membaca artikel ini, seharusnya Anda melihat ke sekeliling Anda. Berapa banyak orang yang buta huruf dan tidak mampu sekolah? Berapa banyak orang yang bisa dan mengerti cara mengoperasikan komputer? Berapa banyak orang yang bisa menikmati listrik 24 jam? (jadi ingat waktu sedang tugas PTT di Papua)

Memang kelihatannya rumput tetangga lebih hijau. Well, seandainya kita akhirnya mendapatkannya, kesenangan yang timbul hanya akan berlangsung sesaat (bahkan kita menyesal telah membelinya, lalu kemudian sibuk mencari mainan baru lainnya). Kenapa? Karena kita ingin tampak ‘wah’ seperti pak Brotoks yang baru beli mobil BMW, atau ibu Sinthi yang jari tangannya penuh berlian. Benarkah itu yang kita butuhkan? Ada quote bagus dari Will Smith : “Too many people are spending money they haven’t earned, to buy things they don’t want, to impress people they don’t like.” Ouch.. kena deh..

Mungkin pertama-tama yang harus diakui bahwa selalu ada orang yang ‘lebih’ dari kita. Apakah itu lebih penghasilan, lebih pintar, lebih tampan/lebih cantik (kalau soal ini relatif, hehe..), dan lebih-lebih lainnya, termasuk lebih monyong bibirnya mas Thukul Arwana, hehe..

Dan, kalau ada yang ‘lebih’ pasti ada yang ‘kurang’ bukan? Coba Anda perhatikan mereka yang terlahir tanpa tangan, atau terlahir di Somalia dimana listrik dan makanan adalah suatu kemewahan.

Jadi, bersyukurlah karena Anda masih bisa bernafas. Bersyukurlah pada hari ini. Bersyukurlah pada ibu yang telah melahirkan kita. Bersyukurlah pada kekurangan yang kita miliki supaya bisa menjadi motivasi untuk maju. Bersyukurlah pada ketidak tahuan kita, supaya kita bisa lebih banyak belajar lagi.

Berlaku pula dalam dunia pernikahan : menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.

Posted in Sebuah Perenungan | Tagged | Leave a comment

Seks itu Sakral dan Agung.

simbol seks

Kenapa hubungan seks itu sakral dan agung? Karena dengan melakukan hubungan seks, dapat tercipta seorang manusia yang bisa melakukan banyak hal untuk kemanusiaan dan banyak hal besar lainnya.

Tak terhitung berapa banyak calon manusia yang digagalkan menjadi manusia oleh ayah ibunya di sebuah tempat bertuliskan “menerima aborsi”.

Jadi, masihkah Anda (mau) bermain-main dengan seks?

Posted in Sebuah Perenungan | Tagged , , | Leave a comment

Enaknya Menyalahkan Orang Lain

jari menunjuk menyalahkan

Kemarin malam, aku ada janji bertemu dengan teman untuk sekitar jam 7pm di rumahnya daerah kawasan bisnis Sudirman Jakarta. Kebetulan istri ikut bersama-sama sepulang dari kegiatan agama. Ketika kita keluar dari tempat agama, ketika itu pula kantor selesai jam kerjanya. Pasti terbayang situasi ketika semua orang bergegas untuk pulang kantor di Jakarta.

Hampir 1 jam kita menunggu antrian kendaraan yang berjalan tersendat-sendat dari arah Manggarai menuju Sudirman, istri yang sejak kecil tinggal di Tangerang tiba-tiba mengusulkan untuk mengambil jalan pintas melewati sebuah jalan kecil. Mau tak mau aku pun langsung banting setir mengingat dia sudah sering lewat jalur ini, dan dia lebih tahu dari aku yang bukan berasal dari Jakarta. Sesampai di ujung jalan kecil itu, kita mulai bingung dengan pemandangan tidak familiar yang terlihat di depan. Karena tidak ada jalur U-turn (jalur untuk berputar haluan), akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti jalan itu. Ternyata jalan itu mengharuskan kita berputar lebih jauh lagi (ditambah kemacetan panjang yang membuat stress)

Sepanjang jalan, tak henti-hentinya aku mengoceh, ngedumel kepada istri. Aku terus menyalahkan dia dan terus uring-uringan sesampai di rumah temanku itu terlambat lebih dari 1 jam. Ternyata memang jadwal diundur karena masih menunggu 1 orang teman lagi. Pertemuan pun berjalan lancar, dan aku langsung menyesali tindakanku sebelumnya yaitu memarahi istriku.

Kadang kita mempunyai mekanisme untuk menyalahkan orang lain dahulu, daripada introspeksi ke dalam diri sendiri dan melihat kesalahan di dalamnya. Memang enak untuk menyalahkan orang lain dan merasa diri sendiri yang lebih benar, tetapi benarkah seperti itu?  Bukankah setiap keputusan yang kita ambil adalah murni keputusan kita sendiri (tanpa mengesampingkan pendapat orang lain, baik dalam bentuk intimidasi maupun bujuk rayu)? Bukankah kita sendiri yang memutuskan untuk mengikuti atau tidak mengikuti pendapat tersebut.

Dengan adanya kejadian ini, paling tidak lain kali aku akan berusaha keluar dari emosi yang mengurung dan berpikir ulang tentang semua keputusan (terutama yang salah) yang aku putuskan untuk diambil.

NB : Jadi ingat, keputusan yang berujung pada keberhasilan biasanya aku klaim sebagai keputusanku sendiri (kali ini dengan mengesampingkan pendapat orang lain). Hehe..

Posted in Sebuah Perenungan | Leave a comment