SATU CIN(t)A

Kemarin, melalui Facebook aku sempat chat dengan wanita yang dulu pernah singgah di kehidupan SMU-ku. Dia sekarang sudah berkeluarga dan tinggal di belahan bumi nan jauh di sana. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar, to the point aku langsung tanyakan perasaannya dulu ketika kuucapkan perasaan sayang dan ingin menjadikannya pasangan. Saat itu dia hanya terdiam dan menangis. Sampai sekarang pun aku masih tidak tahu jawabannya, sampai akhirnya pertanyaanku terjawab di chat itu.. “Ya, aku juga dulu suka kamu.”

Deg.. jantungku serasa berhenti sesaat. Antara perasaan sedih, haru, bahagia, sesal bercampur aduk dengan logika. Lalu kuberanikan diri bertanya mengapa dia diam saja tidak menjawab maksud hatiku. Dia lalu menulis : “karena aku dan kamu berbeda.. karena kita berbeda suku dan agama.. karena gaya hidup kita berbeda..”

Wah, aku langsung seketika protes (dalam hati). Kenapa hanya karena berbeda suku dan agama serta status sosial, dia tidak mau melanjutkan hubungannya denganku menjadi lebih dari sekedar sahabat? Bukankah kita diciptakan sama di hadapan-Nya? Bukankah kita menghirup udara yang sama? Bukankah kita tinggal di planet yang sama? Siapa yang berani mengkotak-kotakkan makhluk ciptaan-Nya yang begitu mulia ini? Mungkin jawaban Anda : tanya saja Nazi Jerman, tanya saja suku Hutu di Rwanda sana.

Ataukah pendidikan formal dan non-formal sepanjang hidup kita, nasehat dari sesepuh, wanti-wanti dari orang tua, hukuman sosial dari lingkungan, dan peraturan dari pemimpin yang membuat kita terkotak-kotakkan seperti itu?

Dan apakah esensi kita hidup hanya dengan mencari siapa paling hebat, siapa paling benar, siapa paling berkuasa, siapa paling mayoritas adalah benar adanya?

Memang tak-kutampik semuanya ada dalam diriku. Tetapi aku masih terus berusaha menghilangkan batasan-batasan yang telah mencuci otakku selama ini, membelenggu setiap insan yang menginginkan ke-SATU-an. Satu sebagai manusia yang saling mencinta, satu sebagai makhluk hidup yang bertugas menjaga kelestarian bumi dan perdamaian dunia, daripada hidup hanya untuk membedakan antara yang sama dan yang tidak sama.

Judul terinspirasi film CIN(t)A

Advertisements

About Ron Leon

Dokter umum, pengusaha apotek, supplier batu split, supplier kerajinan batu marmer, supplier kotak kayu
This entry was posted in Sebuah Perenungan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to SATU CIN(t)A

  1. Dian L says:

    wah, bagus banget ulasannya. sudah nonton filmnya juga.
    jadi inget Imagine – John Lennon

    Imagine there’s no countries
    It isn’t hard to do
    Nothing to kill or die for
    And no religion too
    Imagine all the people
    Living life in peace

    You may say that I’m a dreamer
    But I’m not the only one
    I hope someday you’ll join us
    And the world will be as one

    Makasih ya mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s