Eits.. apaan nih? Emosi sesaat tapi berlanjut? Gak salah nih? Yang bener emosi terus-menerus kali? Hehe.. iya, bener kok. Pernahkah Anda merasakan suatu ketika Anda marah kepada pasangan tetapi akhirnya malah berkelanjutan?
Baru kemarin ini saya marah kepada istri saya. Marah kenapa? Jadi gini ceritanya, kemarin saya dan istri pergi ke pusat perbelanjaan. Karena saya ada perlu ke toko buku, akhirnya kita berpisah. Istri saya belanja dengan kartu kredit setelah sebelumnya meminta ijin kepada saya.
“Hon (honey), aku bawa kartu kredit aja ya?” “Oke” jawabku sambil beringsut ke toko buku. Tak berapa lama (kurang lebih 1 jam, maklum kalo 1 jam buat saya di toko buku rasanya hanya 10 menit, hehe..), istri saya datang sambil menggendong anak saya yang berumur 1 tahun. “Hon, aku udah belanja ya, totalnya sekian.”.
Weks! Banyak amat! Pikirku.. karena baru 2 minggu kemarin kita sudah belanja besar untuk 1 bulan. Belum lagi bulan ini sudah keluar uang banyak untuk ganti ban mobil dan keperluan mendadak lainnya. Aku langsung diam seribu bahasa dan meletakkan buku-buku yang sudah aku pilih.
“Ya udah yuk kita pulang.”, kataku tanpa semangat. “Eh sebentar, ke toko pakaian anak2 dulu yuk. Ada diskon gedhe tuh”. Tanpa babibu, istriku langsung masuk ke dalam toko dan memilih2 sepatu. Dia ambil 2 pasang sepatu dan membayarnya di kasir. Karena semakin BT (Bad Temper), aku masuk aja sekenanya ke toko sebelahnya tanpa niat ternyata toko yang menjual berbagai DVD games. (untung bukan toko pakaian dalam wanita!)
Sesaat kemudian, istriku keluar dari toko anak2 sambil tersenyum dan memanggilku pulang. Sepanjang perjalanan dia tak hentinya bicara sudah mendapatkan sepatu anak2 murah. Sedangkan aku? Karena amarah, aku hanya diam menggerutu dalam hati, dan berjanji lain kali tidak akan meninggalkannya belanja tanpa pengawasan.
Sampai rumah dan beberapa hari kemudian, amarahku semakin menjadi2. Aku tidak menegur istri dan menjawab seadanya bila ditanya. Aku semakin tertutup amarah dan mulai menghubung2kan kesalahan2nya di masa lalu. Arrgghhh…
Selidik punya selidik, ternyata kemarin istri berbelanja kebutuhan anakku untuk sebulan ke depan. Dengan alasan sedang diskon besar, istriku memborong susu formula, popok bayi, dan lain-lain. Tadi pagi aku sudah mencium istri dan meminta maaf. Masih agak canggung memang, tapi aku lah yang harus memulai dulu (karena berprasangka buruk).
Setelah dipikir2, saat aku menulis artikel ini, sebetulnya apabila kita marah, itu penderitaan seperti neraka. Kita tidak tahu perasaan orang yang kena marah. Kita hanya marah2 saja sekenanya tanpa tahu kenapa kita harus marah dan tujuan kita marah2. Padahal apabila dikomunikasikan dengan baik sejak awal mulai timbul kecurigaan atau prasangka buruk, mungkin masalah tidak berlarut-larut dan amarah tidak berkelanjutan membawa2 kesalahan masa lalu.
Bagaimana dengan Anda dan pasangan?
terima kasih… pas banget kebetulan lagi marah.. jadi agak reda.. positif thinking, aq yakin dia melakukan itu dg niat yg baik.. tarik nafas panjang.. ground kan semua amarah, sekali lagi, terima kasih atas tulisannya
syukurlah bisa jadi secuil inspirasi untuk emosi sesaat Anda. (semoga sesaat ini saja ya, jgn seperti saya, hehe..)
salam..